Bantu Anak Yatim berhadiah ‘Marketing’

Membantu anak Yatim berhadiah ‘Marketing’ ???? gimana caranya???

Beberapa saat yang lalu saya bertemu dengan seorang ibu muda yang berjualan peyek udang dan peyek kacang. Peyeknya dijual bungkusan besar.

Ibu muda itu memulai usahanya sesaat sebelum tanggal 10 Muharam tahun ini. Mulanya Ia membuat peyek untuk tambahan dana untuk kegiatan ‘lebaran anak yatim’ yang dirayakan pada tanggal 10 Muharam.

Ibu muda itu memasarkan peyek kepada mayarakat sekitar. tanpa disangka, sampai sekarang banyak reorder dari masyarakat sekitar, dan juga dari pembeli baru (new buyer).

Jadi dengan memasarkan produk tersebut untuk bantu anak yatim, maka keinginan untuk membeli (intention to buy) dari calon konsumen sudah diperoleh. dilanjutkan dengan pengalaman konsumen berinteraksi dengan produk. Dilanjutkan lagi dengan action to buy yang dicerminkan dengan reorder dan bertambahnya konsumen baru.

Coba dibayangkan berapa besar biaya marketing yang dikeluarkan oleh produsen makanan yang baru untuk mendapatkan itention to buy. Sekarang kita lihat berapa besar yang dikeluarkan oleh ibu muda itu untuk mendapatkan intention to buy buat peyek yang dijualnya.

Jadi nggak berlebihan kalo saya bilang ibu itu telah mendapatkan ‘marketing’ gratis atas produk yang dijualnya.

Bayangkan lagi kalo anda ditawarkan suatu barang dengan embel-embel ‘buat bantu anak yatim’, pasti anda akan membelinya (kalau duit dikantong ada tentunya), bahasa kerennya ‘For Charity’.

AQUA saja meniru cara ini dengan program 1 liter untuk 10 liter air bersih (joke mode : ON). ‘Aqua untuk anak Indonesia’ kata zidane. Tahu berapa biayanya? yang jelas ongkos pesawat zidane aja lebih dari 10 juta.

Jadi kalo kita beramal jangan hitung-hitung berapa yang kan kembali ke kita, karena Allah berjanji akan mendatangkan rezeki dengan cara yang tidak disangka, dan tak terhingga (bahasa betawi: nggak peritungan) (bahasa arab :bi ghoiri hisab).

Leave a Reply