Archive for November, 2007

Niat Haji - Kun Fa Yakun

Thursday, November 29th, 2007

suatu saat di musim haji

"…astaghfirullah al azhim…astaghfirullah al azhim" dengan penekanan pada akhir istighfarku, aku buka kedua mataku, segera kusadari sekitar ku telah jauh lebih tenang bila dibandingkan saat awal kami membentangkan tikar tadi.

Wilayah di sekitar tempat duduk kami, yang semula menjadi tempat lalu lalang orang menuju Jamarat (tempat melempar jumrah) telah dikelilingi oleh jamah haji dari negara lain, di sebelah barat di tempati oleh rombongan dari Lebanon, di utara kami ditempati oleh rombongan dari Turki, kedua rombongan ini dikawal oleh pemuda-pemuda yang berbadan besar. Kelompok inilah yang diberikan Tuhan untuk melindungi kami. "alhamdulillah, Allah mengabulkan istighfar panjang-ku" pujiku dalam hati.

Saat ini kami sedang menjalankan hari ke dua mabid di Mina. Buat kami, haji lokal, tidak ada tenda yang disiapkan, kami berebutan mencari tempat dengan jemaah haji lainnya, kami hanya beralaskan tikar, beratapkan langit.

Disebelah timur dan selatan kami ditempati oleh Rombongan haji ONH dari Indonesia. Kutahu itu dari atribut yang mereka gunakan. "Pak, asal dari mana?" tanya temanku pada salah satu Jamaah ONH. "Dari Medan pak, bapak dari mana?" balasnya. "Kami dari Jeddah, kami TKI di sini" jawab temanku. bapak itu manggut-manggut sambil memegang janggutnya. "Kalo ONH, khan ada tendanya Pak?" tanya temanku lagi."Wah, tenda kami ada di Mina jadid (baru). Kami takut daerah tersebut sudah tidak termasuk areal mabid, jadi kami ikut gelar tikar di sini" jawab bapak sambil tersenyum.

Betul! salah satu syarat mabid di Mina itu adalah berada di daerah ‘Haram’ (Mina) selama dua pertiga malam. Akhir-akhir ini pemerintah Saudi membuka Mina jadid untuk menampung jamaah yang semakin membludak. Kalau sah atau tidaknya mabid di mina jadid, masih banyak diperdebatkan.

"Mas sudah Jumrah?" Tanya Bambang memecah lamunanku, kujawab dengan gelengan. "Nanti saja, kayaknya masih cukup rame di Jamarat" kataku sambil menunjuk dengan dagu ke arah Jamarat yang tampak dari kejauhan.

"Habis mabid ini, acara kita apa lagi,Mas?" tanya Bambang lagi. "kita khan mau nafar awal, jadi abis mabid dan jumrah malam ini, kita akan jumrah lagi besok siang. Setelah itu kita harus meninggal kan daerah haram Mina ini sebelum waktu Maghrib" Jawabku. Dari pandangannya kutahu, Bambang masih menunggu lanjutan penjelasan ku. "setelah itu kita akan melakukan Tawaf wada sebagai perpisahaan. terus kita meniggalkan Mekkah menuju Jeddah.Selesai deh rangkaian ibadah haji kita" Lanjutku sambil menepuk pundak Bambang."Insya Allah" jawab Bambang. Kulihat tatapan Bambang menerawang jauh, tak lama tersungging senyuman di bibirnya.

Dengan penasaran aku bertanya "Kenapa seyum-senyum, mbang?" sambil memegang kepalanya Bambang menjawab "eh… anu .. Mas, Alhamdulillah akhirnya Haji saya kesampaian, Mas" kusambut dengan berkata "insya Allah".

"Ya, Mas. Kalo dipikir-pikir, kayaknya nggak mungkin saya bisa naik Haji." ucap Bambang dengan semangat. "Musim haji tahun lalu, waktu Kakak Ipar saya pulang dari haji. Di dalam hati saya bilang, tahun depan giliran saya yang naik haji".kata Bambang. "trus?" tanyaku penasaran. "Beberapa hari kemudian saya berfikir, mustahil, gimana caranya naik haji yach?, sedangkan penghasilan saya aja pas-pasan. Apalagi mau nabung buat naik haji  yang 30 jutaan" ujarnya lagi. Aku hanya bisa nyengir saat itu.

Kemudian bambang melanjutkan lagi, "eh, sekitar enam bulan kemudian saya dipanggil temen saya untuk tes di perusahaan ini. Awalnya sih untuk perusahaan di Jakarta, kemudian orang HR nya hubungi saya,.." "siapa?, Pak Hari?" tanyaku."Ya, Pak Hari, dia bilang Saya mau di prospek buat Anak Perusahaan di Saudi, karena keahlian saya diperlukan untuk proyek di Sana. Saat itu saya sih cuman bisa nyengir. Trus Pak Hari suruh saya mendiskusikan dengan keluarga. Akhirnya jadi deh saya jalan ke Jeddah, dan alhamdulillah bisa naik Haji tahun ini,"tukas Bambang. "Alhamdulillah ya!, Tuhan mau nunjukin ke kamu, bahwa nggak ada yang nggak-mungkin dalam kamus Tuhan" kataku. "Ya, bener Mas. Kun fa yakun". Jawab Bambang.

Sedang saya merenungkan betapa besarnya kuasa Tuhan, tak ada yang tak mungkin ‘ditangan’-Nya, datanglah sekelompok teman yang baru pulang dari melempar jumrah seraya berkata "Alhamdulillah, nggak terlalu penuh. Tapi jalannya harus muter, banyak yang mabid ditengah jalan". Mendengar informasi tadi, Bambang menarik lenganku sambil berkata, "yuk! kita jumrah sekarang". "Yuk! udah agak malam nih" jawabku sambil melirik Arloji yang menunjukan pukul 20:30. Segera kami berdua menerobos kerumunan. Fikiran ku larut dalam meluruskan niat untuk melaksanakan satu lagi wajib-haji.

*Kun fa yakun, lahaula wala kuwata ila billah*

Arti dari sebuah nama

Thursday, November 15th, 2007

Malam itu saya sedang membolak-balik buku yang memuat ‘nama-nama’, maklum kami sedang mencari nama untuk anak ketiga kami. Tell the truth, pusing juga mencari nama untuk anak.

Saya terus membolak-balik sambil sesekali meminta persetujuan, ‘kalo ini? kalo itu?’ sambil menjelaskan arti dari nama yang saya sebutkan. Semuanya selalu dijawab dengan gelengan, atau kata ‘jangan itu ah’. "Pokoknya jangan diakhiri dengan vokal ‘i’ " kata Mama, "biasanya, jadi bandel" lanjutnya. Aku sih cuman nyengir, "apa iya???" bisik ku dalam hati. "Contohnya A***i, A***i ", lanjut Mama seolah mendengar bisikan dalam hati ku ;)).

"Kalo nama Ku artinya apa pa?" tanya si sulung penasaran, si sulung yang sejak tadi ikut mendengarkan sambil membolak balik majalah yang dibeli sore tadi. Saya menutup buku sambil berkata "kalo Tiara artinya mahkota. Jadi Tiara Putri adalah Mahkota dari putri-putri. Papa berdoa semoga Tiara menjadi pemimpin putri-putri, kaum perempuan, atau jadi putri yang dihormati". "Amin" sambung istriku.

"kalo nindya artinya apa pa?" Tanya si Adek yang juga jadi ikutan penasaran. "Anindya itu artinya sempurna" ujarku. "Pratista itu tegar, kuat pendiriannya, atau istiqoma" lanjutku. "Jadi Anindya Putri Pratista adalah Putri sempurna yang tegar, atau istiqomah" simpulku. "semuanya bahasa sansekerta. Bahasa orang-orang dulu. Nama papa juga bahasa sansekerta". "Lesmana" tegasku.

"Kalo nama kakak, Bahasa Apa?" ujar si Adek. "Kalo Tiara, bahasa international, bahasa inggris, bahasa indonesia, juga bahasa latin" jawabku sok tahu.

"Kalo Yos Lesmana artinya apa pa?" tanya si sulung. "Yos itu biasanya singkatan dari yosef, atau yusuf. Sedang Lesmana itu nama tokoh dalam wayang" jawabku. "Jadi artinya apa pa?" tanya si Adek penuh penasaran. "Nggak tahu, Opa yang kasih nama, mungkin karena papa ganteng kayak nabi Yusuf" jawabku. "betul kan, ma?" lanjutku minta penegasan, yang disambut dengan koor trio angel ku dengan ‘u-dowo’ alias "uuuuuuuuuu". Kami pun tertawa.

"Nggak tahu, kata Oma, dulu ada tetangga yang namanya Yos, Jadi Opa kasih nama papa seperti nama tetangga itu" ujarku berusaha menjelaskan. Mereka masih terdiam menunggu penjelasan lebih lanjut dariku. "Wah udah malem nih, Papa terusin cari namanya besok aja deh" kataku mengingatkan bahwa sekarang adalah waktunya tidur.

Kedua angelku segera lari ke kamar mereka. Seakan mereka lupa akan pertanyaan mereka yang belum ku jawab tuntas. Secara berbarengan mereka mengucapkan "selamat bobok mama, selamat bobok papa". Lucunya kami pun berbarengan menjawab "Selamat bobok sayang". "jangan lupa baca doa!" lanjut istriku.

Saat aku membenahi buku-buku tadi, pikiran ku melayang dan menimbulkan senyum lebar dibibirku. Segera istriku menyambut, "kenapa, papa kok senyum-senyum sendiri?". "nggak, kepikiran aja. Apa yang akan dijawab sama saudaranya Papa, yang namanya No**r, Ni**on,Gi**l, kalau ditanya apa arti nama mereka oleh anak-anaknya" Jawabku sambil tersenyum.

"Nama buat anak kita nanti, tiga kata, atau dua kata, ma?" tanyaku. "lihat aja nanti". jawabnya asal.

"Anak sekarang namanya panjang-panjang. Tapi panggilannya cuman ‘uu’ atau ‘ii’ khan nggak jadi doa lagi",ujarku yang disetujui istriku dengan senyumannya.

Kemudian kami berdua masuk ke kamar kami sambil menutup pintu, agar adegan yang terjadi selanjutnya menjadi rahasia kami. kam* **** *** [censored).